Tampilkan postingan dengan label TULISAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TULISAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Mei 2013

Buku Catatan Rahasia Ayah

Buku Catatan Rahasia Ayah - Ada sebuah keluarga yang terlihat damai dan rukun dalam kesehariannya. Tinggallah Ayah dan ibu serta seorang anak laki-laki yang beranjak dewasa. Selama 30 tahun ayah dan ibunya menikah, sejak kecil sang anak tidak pernah melihat pertengkaran yang terjadi antara ayah dan ibunya. Dalam hati sang anak berpikiran bahwa kehidupan perkawinan dari orang tuanya bisa menjadi teladan baginya jika suatu saat mempunyai istri.
Sang anak kemudian menikah dengan gadis impiannya, dan memutuskan tinggal dirumah sendiri. Kadang apa yang direncanakan tidak seperti kenyataan. Harapan sang anak tadi ingin bisa hidup rukun dan bahagia dalam rumah tangganya seperti ayah ibunya. Tak lama setelah menikah, sang anak dan istrinya sering bertengkat yang hanya disebabkan oleh hal-hal kecil.
Catatan Buku Rahasia Ayah
Catatan Buku Rahasia Ayah [kompasiana]
Suatu hari sang anak mengunjungi orang tuanya. Saat anak dan ayahnya duduk santai di teras rumah, sang anak menceritakan perihal rumah tangganya. Sang ayah berusaha menjadi pendengar yang baik, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun saat anaknya menceritakan keluh kesah rumah tangganya. Tidak lama kemudian sang ayah berdiri dan masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, sang ayah membawa beberapa buku catatan dan ditumpuk di depan anaknya. Sebagian besar buku catatan tersebut kertasnya telah menguning. Kelihatannya buku-buku itu telah disimpan selama puluhan tahun, pikir sang anak.
Dengan penuh rasa ingin tahu, sang anak mengambil salah satu diantara tumpukan buku tadi. Isi buku tadi berisi tulisan tangan sang ayah. Sang anak penasaran dengan apa yang telah ditulis ayahnya di buku yang dia pegang. Kemudian sang anak membaca dengan seksama halaman demi halaman isi buku itu. Semuanya merupakan tulisan catatan hal-hal sepele kejadian sekitar Ayah, “suhu udara mulai berubah menjadi dingin, ia sudah mulai merajut baju wol untuk saya.” Juga tertulis “anak–anak terlalu berisik, untung ada dia.”
Sedikit demi sedikit tercatat, semua itu adalah catatan mengenai berbagai macam kebaikan dan cinta ibu kepada ayah, mengenai cinta ibu terhadap anak, anak dan terhadap keluarga ini. Dalam sekejap sang anak sudah membaca habis beberapa buku. Perasaan hangat mengalir di dalam hati sang ana dan tak teras berlinang air mata. Sambil mengangkat kepala dengan penuh rasa haru, sang anak berkata pada ayah “ayah, saya sangat mengagumi ayah dan ibu.”
Ayah menggelengkan kepalanya dan berkata, “tidak perlu kagum, kamu juga bisa.” Kemudian ayah berkata, “menjadi suami istri selama puluhan tahun lamanya, tidak mungkin sama sekali tidak terjadi pertengkaran dan benturan. Intinya adalah harus bisa belajar untuk saling pengertian dan toleran. Setiap orang memiliki masa emosional, ibumu terkadang kalau sedang kesal, juga suka mencari gara – gara, melampiaskan kemarahannya pada ayah dengan mengomel”.
Dengan menghela nafas sebenter, kemudian sang ayah melanjutkan, “Waktu itu saya bersembunyi di depan rumah, di dalam buku catatan saya tuliskan segala hal yang telah ibumu lakukan demi rumah tangga ini. Sering kali dalam hati saya penuh dengan amarah waktu menulis kertasnya sobek akibat tembus oleh pena. Tapi saya masih saja terus menulis satu demi satu kebaikannya, saya renungkan bolak balik dan akhirnya emosinya juga tidak ada lagi, yang tinggal semuanya adalah kebaikan dari ibumu.”
Dengan terpesona sang anak mendengarkannya. lalu bertanya pada ayah, “Ayah, apakah ibuku pernah melihat catatan-catatan ini?”. Sang ayah hanya tertawa dan berkata, “Ibumu juga memiliki buku catatan. Dalam buku catatannya itu semua isinya adalah tentang kebaikan diriku. Kadang kala di malam hari, menjelang tidur, kami saling bertukar buku catatan, dan saling menertawakan pihak lain. ha. ha. ha.”
Memandang wajah ayahnya yang dipenuhi senyuman dan setumpuk buku catatan yang berada di atas meja, tiba – tiba sang anak sadar akan rahasia dari suatu pernikahan “Cinta itu sebenarnya sangat sederhana, ingat dan catat kebaikan dari orang lain. Lupakan segala kesalahan dari pihak lain.” (@M)

http://www.jagatmotivasi.com/buku-catatan-rahasia-ayah/
Makalah Bahaya Narkoba bagi Remaja

Makalah yang berjudul Bahaya Narkoba Bagi Remaja ini saya tujukan kepada para remaja, Pelajar ataupun pada khalayak ramai yang membaca makalah ini agar bisa mengerti tentang bagaimana bahaya narkoba yang bisa membuat kita lalai dalam hal apapun. Dengan harapan yang maka semoga makalah yang sedemikian singkat ini bisa membantu dan menambah wawasan anda tentang pengertian dan bahaya narkoba itu sendiri
Tujuan Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan generasi muda dewasa ini kian meningkat. Maraknya penyimpangan perilaku generasi muda tersebut, dapat membahayakan keberlangsungan hidup bangsa ini di kemudian hari. Karena pemuda sebagai generasi yang diharapkan menjadi penerus bangsa, semakin hari semakin rapuh digerogoti zat-zat adiktif penghancur syaraf. Sehingga pemuda tersebut tidak dapat berpikir jernih. Akibatnya, generasi harapan bangsa yang tangguh dan cerdas hanya akan tinggal kenangan. Sasaran dari penyebaran narkoba ini adalah kaum muda atau remaja.
1. Pengertian dan macam-macam narkoba
Menurut WHO (1982), semua zat padat, cair maupun gas yang dimasukan kedalam tubuh yang dapat merubah fungsi dan struktur tubuh secara fisik maupun psikis tidak termasuk makanan, air dan oksigen dimana dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi tubuh normal
Disini akan kami jelaskan tentang jenis-jenis narkoba, yaitu diantaranya adalah :
  • Narkotika adalah Zat / obat yang berasal dari tanaman atau sintetis maupun semi sintetis yang dapat menurunkan kesadaran, hilangnya rasa , mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan
  • Psikotropika Zat/obat alamiah atau sintetis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku
  • Zat adiktif adalah Bahan lain bukan narkotika atau psikotropika yang pengunaannya dapat menimbulkan ketergantungan baik psikologis atau fisik. Mis : Alkohol , rokok, cofein  
2. Bahaya Narkoba Bagi Remaja atau Pelajar

Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan generasi muda dewasa ini kian meningkat Maraknya penyimpangan perilaku generasi muda tersebut, dapat membahayakan keberlangsungan hidup bangsa ini di kemudian hari. Karena pemuda sebagai generasi yang diharapkan menjadi penerus bangsa, semakin hari semakin rapuh digerogoti zat-zat adiktif penghancur syaraf. Sehingga pemuda tersebut tidak dapat berpikir jernih. Akibatnya, generasi harapan bangsa yang tangguh dan cerdas hanya akan tinggal kenangan.Sasaran dari penyebaran narkoba ini adalah kaum muda atau remaja. Kalau dirata- ratakan, usia sasaran narkoba ini adalah usia pelajar, yaitu berkisar umur 11 sampai 24 tahun. Hal tersebut mengindikasikan bahwa bahaya narkoba sewaktu- waktu dapat mengincar anak didik kita kapan saja.


Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat-obatan terlarang.
Sementara nafza merupakan singkatan dari narkotika, alkohol, dan zat adiktif lainnya (obat-obat terlarang, berbahaya yang mengakibatkan seseorang mempunyai ketergantungan terhadap obat-obat tersebut). Kedua istilah tersebut sering digunakan untuk istilah yang sama, meskipun istilah nafza lebih luas lingkupnya.
Narkotika berasal dari tiga jenis tanaman, yaitu (1) candu, (2) ganja, dan (3) koka. Ketergantungan obat dapat diartikan sebagai keadaan yang mendorong seseorang untuk mengonsumsi obat-obat terlarang secara berulang-ulang atau berkesinambungan.

Apabila tidak melakukannya dia merasa ketagihan (sakau) yang mengakibatkan perasaan tidak nyaman bahkan perasaan sakit yang sangat pada tubuh (Yusuf, 2004: 34). Di Indonesia, pencandu narkoba ini perkembangannya semakin pesat. Para pencandu narkoba itu pada umumnya berusia antara 11 sampai 24 tahun. Artinya usia tersebut ialah usia produktif atau usia pelajar. 

Pada awalnya, pelajar yang mengonsumsi narkoba biasanya diawali dengan perkenalannya dengan rokok.
Karena kebiasaan merokok ini sepertinya sudah menjadi hal yang wajar di kalangan pelajar saat ini. Dari kebiasaan inilah, pergaulan terus meningkat, apalagi ketika pelajar tersebut bergabung ke dalam lingkungan orang-orang yang sudah menjadi pencandu narkoba. Awalnya mencoba, lalu kemudian mengalami ketergantungan.


Bahaya bagi pelajar 
Di Indonesia, pencandu narkoba ini perkembangannya semakin pesat. Para pencandu narkoba itu pada umumnya berusia antara 11 sampai 24 tahun. Artinya usia tersebut ialah usia produktif atau usia pelajar.

Pada awalnya, pelajar yang mengonsumsi narkoba biasanya diawali dengan perkenalannya dengan rokok.
Karena kebiasaan merokok ini sepertinya sudah menjadi hal yang wajar di kalangan pelajar saat ini. Dari kebiasaan inilah, pergaulan terus meningkat, apalagi ketika pelajar tersebut bergabung ke dalam lingkungan orang-orang yang sudah menjadi pencandu narkoba. Awalnya mencoba, lalu kemudian mengalami ketergantungan.
Dampak negatif penyalahgunaan narkoba terhadap anak atau remaja (pelajar) adalah sebagai berikut:
• Perubahan dalam sikap, perangai dan kepribadian,
• Sering membolos, menurunnya kedisiplinan dan nilai-nilai pelajaran,
• Menjadi mudah tersinggung dan cepat marah,
• Sering menguap, mengantuk, dan malas,
• Tidak memedulikan kesehatan diri,
• Suka mencuri untuk membeli narkoba
3. Upaya Pencegahan Menggunakan Narkoba
Upaya pencegahan terhadap penyebaran narkoba di kalangan pelajar, sudah seyogianya menjadi tanggung jawab kita bersama. Dalam hal ini semua pihak termasuk orang tua, guru, dan masyarakat harus turut berperan aktif dalam mewaspadai ancaman narkoba terhadap anak-anak kita.
Adapun upaya-upaya yang lebih kongkret yang dapat kita lakukan adalah melakukan kerja sama dengan pihak yang berwenang untuk melakukan penyuluhan tentang bahaya narkoba, atau mungkin mengadakan razia mendadak secara rutin.
Kemudian pendampingan dari orang tua siswa itu sendiri dengan memberikan perhatian dan kasih sayang. Pihak sekolah harus melakukan pengawasan yang ketat terhadap gerak-gerik anak didiknya, karena biasanya penyebaran (transaksi) narkoba sering terjadi di sekitar lingkungan sekolah.
Yang tak kalah penting adalah, pendidikan moral dan keagamaan harus lebih ditekankan kepada siswa.
Karena salah satu penyebab terjerumusnya anak-anak ke dalam lingkaran setan ini adalah kurangnya pendidikan moral dan keagamaan yang mereka serap, sehingga perbuatan tercela seperti ini pun, akhirnya mereka jalani.
Oleh sebab itu, mulai saat ini, kita selaku pendidik, pengajar, dan sebagai orang tua, harus sigap dan waspada, akan bahaya narkoba yang sewaktu-waktu dapat menjerat anak-anak kita sendiri. Dengan berbagai upaya tersebut di atas, mari kita jaga dan awasi anak didik kita, dari bahaya narkoba tersebut, sehingga harapan kita untuk menelurkan generasi yang cerdas dan tangguh di masa yang akan ating dapat terealisasikan dengan baik


Setelah Anda membaca Makalah ini tentang bahaya narkoba bagi Remaja, Pertanyaan yang saya ajukan adalah apakah Anda masih mau untuk mencoba narkoba? Masih Mau bergaul dengan orang-orang yang memakai narkoba? masih mau mendekati narkoba?

lalu Apa Tindakan anda jika ada teman anda yang memakai narkoba? apa tindakan Anda jika disekitar rumah anda ada sekelompok pecandu narkoba? jawaban anda adalah tindakan anda

1. Simpulan
Dari makalah di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa :
1) Narkoba adalah barang yang sangat berbahaya dan bisa merusak susunan syaraf yang bisa merubah sebuah kepribadian seseorang menjadi semakin buruk
2) Narkoba adalah sumber dari tindakan kriminalitas yang bisa merusak norma dan ketentraman umum.
3) Menimbulkan dampak negative yang mempengaruhi pada tubuh baik secara fisik maupun psikologis
DAFTAR PUSTAKA
  • Simuh, dkk., Tasawuf dan Krisis, Semarang, Pustaka Pelajar, 2001.
  • M. Arief Hakim, Bahaya Narkoba Alkohol : Cara Islam Mengatasi, Mencegah dan Melawan, Bandung : Nuansa, 2004.
  • Brosur Direktorat Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Korban NAPZA, Depsos RI.
  • Effendi, Luqman, 2008. Modul Dasar-Dasar Sosiologi dan Sosiologi KesehatanI. Jakarta: PSKM FKK UMJ.
  • Kartono, Kartini, 1992. Patologi II Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawali.
  • Mangku, Made Pastika, Mudji Waluyo, Arief Sumarwoto, dan Ulani Yunus, 2007. pecegahan Narkoba Sejak Usia Dini. Jakarta: Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia.
  • Shadily, Hassan, 1993. Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta: PT RINEKA CIPTA.
  • Soekanto, Suryono, 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persuda
  • Sofyan, Ahmadi, 2007. Narkoba Mengincar Anak Anda Panduan bagi Orang tua, Guru, dan Badan Narkotika dalam Penanggulangan Bahaya Narkoba di Kalangan Remaja. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
Dari Internet
  • http://web.netura.net.id/
  • http://wikipedia.com
  • http://pikiran-rakyat.com/
  • http://www.acronymfinder.com/
  • http://openlibrary.org/books/OL3739666M Pelatihan_pencegahan_perilaku_penyalahgunaan_narkoba_bagi_pra_remaja_dan_remaja
  • http://sugeng-bahayanarkoba.blogspot.com/

Jika Anda Tertarik untuk mengcopy Makalah ini, maka secara ikhlas saya mengijinkannya, tapi saya berharap sobat menaruh link saya ya..saya yakin Sobat orang yang baik. selain Makalah Bahaya Narkoba bagi Remaja, anda dapat membaca Makalah lainnya di Aneka Ragam Makalah. dan Jika Anda Ingin Berbagi Makalah Anda ke blog saya silahkan anda klik disini. Salam saya Ibrahim Lubis. email :ibrahimstwo0@gmail.com

[POLL] PSSI, Dari Fenomena AFF CUP Sampai Dualisme



Anda Pilih Mana?
Quantcast
Para insan dan pecinta sepakbola di tanah air pasti sudah mengetahui atau bahkan muak dengan konflik yang ada di PSSI sekarang ini. Kedua pihak seakan ingin menang sendiri dan masing-masing meresa paling benar dan menyampingkan persatuan dalam sepakbola itu sendiri. Bisa dibilang sepakbola Indonesia sekarang ini sedang terpuruk, terpuruk bukan karena pemain kita payah dan kurang berbakat tetapi karena segelintir kelompok dan golongan yang masing-masing membela kepentinganya.


Munculnya dualisme Liga dan Timnas menambah terpuruknya dunia sepakbola kita. Dua kubu yang berseteru PSSI Djohar yang dikatakan banyak orang dikendalikan oleh seorang pengusaha bernama Arifin Panigoro dan KPSI La Nyala yang dikatakan banyak orang sebagai orang dekat keluarga Bakrie terus membuat kusut sepakbola kita. Yang benar diantara keduanya? tidak ada yang benar, karena jika ada yang benar pasti ada satu pihak yang mengalah dan merelakan ego demi kepentingan dan kemajuan sepakbola kita.
Awal mula terjadinya benang kusut ini adalah ketika rezim Nurdin memimpin di kala itu masyarakat sepakbola di tanah air mayoritasnya menginginlan Nurdin halid mundur dari jabatan ketua PSSI, karena dinilai sudah tidak layak lagi karena sudah menjadi narapidana kasus korupsi. Hingga pada tahun 2010 ketika timnas berlaga di AFF Suzuki Cup bangkitlah rasa nasionalisme masyarakat untuk timnas, hal ini diawali dengan ‘pembantaian’ yang dilakukan timnas Indonesia terhadap timnas Malaysia 5-1 pada pertandingan pertama Indonesia di AFF Suzuki Cup 2010 di Gelora Bung Karno. Setelah pertandingan itu rasa nasionalisme dan dukungan rakyat Indonesia terhadap Indonesia memuncak dan menyebar dari sabang sampai merauke. Rasa optimis akan menjuarai turnamen tersebut pun kuat ditanamkan di dada. Timnas melangkah mulus sampai ke final. Hingga Akhirnya dilibas oleh Malaysia di Bukit Jalil 3-0 di final leg pertama. di leg kedua sebagaimana kita ketahui timnas menang 2-1 tetapi itu tak cukup untuk mengejar agregat. Indonesia harus puas sebagai runner up untuk yang keempat kalinya. Dengan campur tangan FIFA dan AFC dibuatlah Komite Normalisasi untuk memilih ketua baru. Nampaknya dari sini masalah belum selesai pemegang suara mayoritas yang menamakan diri kelompok 78 ingin mengusung Arifin Panigoro dan George Toisuta sebagai calon ketua umum dan wakil ketua umum yang tidak direstui oleh FIFA karena tidak sesuai dengan statuta. Pada saat hari kongres pemilihan dilakukan keributan terjadi karena kelompok 78 bersikukuh ingin mencalonkan kedua nama itu. Namun sudah jelas aturan tak bisa ditabrak dan mereka tidak bisa mendaftarkan kedua nama itu (Arifin Panigoro dan George Toisuta). Kongres diskors. FIFA memberikan kesempatan terakhir hingga akhir Juni 2011 untuk memilih ketua umum baru. Pada Kongres luar biasa akhir Juni itu terpilihlah Djohar Arifin Husin sebagai ketua umum dan Farid Rahman sebagai wakilnya. Pada kongres itu pemilihan berjalan lancar dan tidak ada ribut-ribut seperti kongres sebelumnya.

Terpilihnya ketua umum baru tak membuat masalah ini selesai. beberapa hari setelah Djohar resmi menjadi ketua Pelatih timnas Indonesia Alfred Riedl secara mengejutkan dipecat oleh PSSI dan digantikan oleh Wim Risjbergen dari belanda untuk mengarungi kualifikasi Piala Dunia 2014. Timnas babak belur pada kualifikasi itu dan tak pernah menang sekalipun. walaupun pada babak awal mengalahkan Turkmenistan 4-3. Kompetisi yang sudah ada yaitu ISL diubah oleh Djohar menjadi Indonesia Premier League (IPL) dengan menambah jumlah peserta yang semula 18 menjadi 24 klub dengan memberikan tiket gratis kepada sejumlah klub untuk langsung promosi ke divisi tertinggi termasuk Persebaya Surabaya. Mereka bisa langsung berlaga di liga teratas Indonesia tanpa harus kerja keras dari bawah. Hal inilah yang membuat salah satu anggota Exco PSSI, La Nyalla geram dan membuat perlawanan namun IPL tetap 24 klub.  Hingga akhirnya sejumlah anggota PSSI yang dulunya mendukung Djohar menjadi balik menentang keputusannya. Mereka manarik diri dari IPL dan membentuk kembali ISL. terciptalah dualisme kompetisi yang dihias dengan dualisme klub. La Nyala cs kemudian membentuk Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia yang anggotanya diisi oleh mayoritas anggota PSSI. Terjadilah dualisme Organisasi. Pada saat AFF CUP 2012 sudah didepan mata terjadilah dualisme Timnas. Bukannya bersatu mereka malah tambah ribut dan terus adu mulut seoalah merasa paling benar.

Dibentuknya komite gabungan oleh AFC dan membuahkan beberapa keputusan    tak membuat dualisme ini selesai.
Sepertinya mereka sudah lupa bahwa sepakbola adalah milik bersama bukan milik Partai Politik seperti yang mereka lakukan. Mereka (yang sedang berkonflik) seakan menjadikan sepakbola untuk alat politik. Semoga mereka sadar dan mau bersatu.

http://toglu.wordpress.com/2012/11/09/pssivskpsi/#more-1567

Tentang Sepak Bola Indonesia

Tim nasional sepak bola Indonesia memiliki kebanggaan tersendiri, menjadi tim Asia pertama yang berpartisipasi di Piala Dunia FIFA pada tahun 1938. Saat itu mereka masih membawa nama Hindia Belanda dan kalah 6-0 dari Hongaria, yang hingga kini menjadi satu-satunya pertandingan mereka di turnamen final Piala Dunia. Indonesia, meski merupakan negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar, tidak termasuk jajaran tim-tim terkuat di AFC.

Di kancah Asia Tenggara sekalipun, Indonesia belum pernah berhasil menjadi juara Piala AFF (dulu disebut Piala Tiger). Prestasi tertinggi Indonesia hanyalah tempat kedua di tahun 2000, 2002, dan 2005. Di ajang SEA Games pun Indonesia jarang meraih medali emas, yang terakhir diraih tahun 1991.

Di kancah Piala Asia, Indonesia meraih kemenangan pertama pada tahun 2004 di China setelah menaklukkan Qatar 2-1. Yang kedua diraih ketika mengalahkan Bahrain dengan skor yang sama tahun 2007, saat menjadi tuan rumah turnamen bersama Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Dalam kualifikasi ke Piala Dunia 2010, Indonesia tidak mampu lolos ke fase ketiga kualifikasi Piala Dunia 2010 setelah takluk di tangan Suriah dengan agregat 1-11. Tim nasional Indonesia U-23 pun juga mengalami kegagalan di SEA Games ke-24 di Thailand; setelah takluk dari Thailand di pertandingan babak penyisihan grup yang terakhir.










Kostum 

Kostum tim nasional Indonesia tidak hanya merah-putih sebab ada juga putih-putih, biru-putih, dan hijau-putih. Menurut Bob Hippy, yang ikut memperkuat timnas sejak tahun 1962 hingga 1974, kostum Indonesia dengan warna selain merah-putih itu muncul ketika PSSI mempersiapkan dua tim untuk Asian Games IV-1962, Jakarta.

Saat itu ada dua tim yang diasuh pelatih asal Yugoslavia, Toni Pogacnic, yakni PSSI Banteng dan PSSI Garuda. Yang Banteng, yang terdiri dari pemain senior saat itu, seperti M. Zaelan, Djamiat Dalhar, dan Tan Liong Houw, selain menggunakan kostum merah-putih juga punya kostum hijau-putih. Sedangkan tim Garuda, yang antara lain diperkuat Omo, Anjik Ali Nurdin, dan Ipong Silalahi juga dilengkapi kostum biru-putih. Tetapi, setelah terungkap kasus suap yang dikenal dengan "Skandal Senayan", sebelum Asian Games IV-1962, pengurus PSSI hanya membuat satu timnas. Itu sebabnya, di Asian Games IV-1962, PSSI sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa karena kemudian kedua tim itu dirombak. Selanjutnya digunakan tim campuran di Asian Games.

Mulyadi (Fan Tek Fong), asisten pelatih klub UMS, yang memperkuat timnas mulai tahun 1964 hingga 1972, menjelaskan bahwa setelah dari era Asian Games, sepanjang perjalanan timnas hingga tahun 1970-an, PSSI hanya mengenal kostum merah-putih dan putih-putih. Begitu juga ketika timnas melakukan perjalanan untuk bertanding di sejumlah negara di Eropa pada tahun 1965. Saat itu setiap kali bermain, kita hanya menggunakan merah-putih dan putih-putih dengan gambar Garuda yang besar di bagian dada hingga ke perut. Seragam hijau-putih kembali digunakan saat mempersiapkan kesebelasan pra-Olimpiade 1976, dan kemudian digunakan pada arena SEA Games XI-1981 Manila. "Begitu juga ketika Indonesia bermain di Thailand, di mana saat itu Indonesia menjadi runner-up Kings Cup 1981," kata Ronny Pattinasarani yang memperkuat PSSI tahun 1970-1985.

Di Piala Asia 2007 yang digelar mulai 8 Juli hingga Minggu 29 Juli, Nike juga telah mendesain kostum tim nasional Indonesia, tetapi kali ini bukan hijau-putih, melainkan putih-hijau. Tentu tetap dengan detail yang sama, seperti Garuda yang selalu bertengger di dada.

Sumber : 
http://myganjar.blogspot.com/p/tentang-sepak-bola-indonesia.html

Tetesan Air Mata Sepak Bola

Artikel Ini saya ambil dari bolanews.com tulisan hasil karya Weshley Hutagalung
“Bukan para politisi rakus, tetapi para pemain sepak bola yang membuat kami bangga. Tim nasional Irak telah menyatukan bangsa ini.”
Ucapan ini dilontarkan seorang polisi berusia 43 tahun di Kota Bahdad bernama Sabar Shaiyal. Keberhasilan Irak menjuarai Piala Asia 2007 dengan mengalahkan Arab Saudi 1-0 di Stadion Bung Karno, Jakarta (29/7), sangat menggembirakan masyarakat yang lama terganggu perang itu.
“Kemenangan tim sepak bola Irak adalah hadiah bagi bangsa Irak yang telah menderita karena pembunuhan, bom mobil, penculikan, dan aksi-aksi kejahatan lain,” ujar Falah Ibrahim, penduduk Kota Baghdad.
Football for peace. Ya, kenapa tidak kampanye sepak bola demi perdamaian dipakai bangsa Irak untuk memulihkan luka mendalam yang selalu “dihadiahkan” peperangan.
Mari simak komentar Shiite Tareq Yassin, salah satu masya­rakat Irak yang berkumpul di Baghdad usai Mahmoud Younis mencetak gol tunggal kemenangan Irak atas Arab Saudi. “Para politisi telah memecah belah kami, tetapi atlet-atlet ini menyatukan bangsa Irak. Saya melupakan semua hal lain kecuali satu hal, yakni Irak.”
Ada apa dengan Irak sehingga saya memulai Weekend Story ini dengan memori sekitar empat tahun lalu? Hm, bukan soal kualitas tim nasional Merah-Putih di Piala Asia 2007 yang menurut saya lebih baik dari timnas di Piala AFF 2010.
Bukan membandingkan peringkat FIFA Bahrain yang kita kalahkan 2-1, Arab Saudi yang mengalahkan Indonesia 1-2, dan Korea Selatan yang cuma mampu unggul 1-0 atas Tim Merah-Putih dengan lawan kita di Piala AFF 2010, yakni Malaysia, Laos, Filipina, dan Thailand.
Dengan bergetar menahan amarah melihat situasi Kongres PSSI di Hotel Sultan, Jumat (20/5), saya meneruskan tulisan ini dengan harapan kita bisa melihat dampak positif dari sepak bola.
Bukan mengecilkan arti cabang olah raga lain. tapi tak akan bosan saya sampaikan pelajaran sederhana namun mahal yang diberikan football kepada kita.
Seperti yang pernah diucapkan Presiden FIFA, Sepp Blatter, sepak bola itu adalah sekolah kehidupan. Permainan ini tentang harapan. Bila Anda kalah sekarang, besok bisa menang selama mengerti di mana letak kegagalan itu dan mau melakukan perbaikan.
Lalu, hubungan sepak bola Irak dengan Indonesia? Semua diawali dari kegelisahan saya melihat foto-foto dan tayangan tim nasional U-23 yang dipersiapkan untuk tampil di SEA Games 2011. Plus, banyak pertanyaan dari pembaca tentang sikap saya atas program pembentukan karakter timnas di Pusdik Kopassus, Batujajar.
Pembaca, pernahkah Anda menonton film Escape to Victory? Film ini berkisah tentang aktivitas para tentara dari berbagai negara di kamp tahanan Jerman selama Perang Dunia II.
Aktor-aktor pemerannya punya nama beken, seperti Sylves­ter Stallone dan Michael Caine, hingga mantan pemain Pele, Bobby Moore, dan Osvaldo Ardiles.
Tantangan pertandingan eksebisi dari tim sepak bola Jerman diladeni para tawanan peran pimpinan Terry Brady (Bobby Moore). Bila Jerman memakai laga itu sebagai bagian dari propaganda, Brady dkk. ingin melarikan diri usai babak I.
Apakah pesan dari film ini? Dari kaca mata sepak bola, Escape to Victory memperlihatkan bahwa football bisa menyatukan ber­bagai kepentingan yang berbeda.
Ketika kapten Robert Hatch dkk. (diperankan Sylvester Stallone) memiliki peluang melarikan diri melalui terowongan di kamar ganti, mereka melihat kejayaan yang lebih besar di lapangan sepak bola.
Ya, mengalahkan Jerman yang arogan dan berkuasa dengan segala fasilitas mewah timnya, dirasakan lebih terhormat. Walau mereka mendapat berbagai hambatan, terutama ambisi pribadi sejumlah pemain yang ingin melepaskan diri dari siksa kamp tahanan.
Dari sepak bola, para tentara juga bisa belajar bagaimana berdisiplin menjaga waktu yang dimiliki. Ingat, setiap tim memiliki 45 menit di babak I dan 45 menit di babak II untuk diperjuangan guna meraih kemenangan.
Bila kita gagal menjaga koor­dinasi pertahanan dan meracik serangan berbahaya untuk melumpuhkan lawan selama 2 x 45 menit itu, bersiap­lah markas kita menerima gempuran lawan dari semua lini.
Soal komando, sepak bola juga menuntut para pemainnya bertempur mengikuti strategi pelatih, walau terkadang inovasi dibutuhkan di lapangan melihat situasi dan kondisi.
Nah, melihat situasi Kongres PSSI hingga Jumat malam, saya jadi bertanya, “Apa artinya sertifikat program pembentukan karakter yang dikeluarkan Satlak Prima, yang katanya wajib dimiliki atlet Indonesia kalau ingin tampil di SEA Games, bila sanksi FIFA menimpa tim nasional kita?”
Saya mendengar anggaran program pembentukan karakter atlet SEA Games di markas Kopassas itu selama 2011 mencapai 7,1 miliar rupiah. Sementara biaya untuk tenaga asing, termasuk di dalamnya sports science, pelatih, dan konsultan berjumlah 9,4 miliar.
Pertanyaannya, setelah menge­luarkan ongkos Rp 5 juta per kepala, adakah jaminan akan ketang­guhan mental dan disiplin itu setelah atlet kita mening­gal­kan Pusdik Kopassus di Batujajar?
Hm, bila ada jaminan, rasanya kita perlu mengajak sebagian besar peserta Kongres PSSI merasa­kan program bapak-bapak Kopassus.
Kalau Mahatma Gandhi dan Nelson Mandela terbukti sukses memakai football sebagai alat perdamaian dan pemersatu bangsa, kenapa kita harus berbeda?
sumber:

Bolanews.com
http://toglu.wordpress.com/2011/05/28/tetesan-air-mata-sepak-bola/#more-751