Sabtu, 04 Mei 2013

[POLL] PSSI, Dari Fenomena AFF CUP Sampai Dualisme



Anda Pilih Mana?
Quantcast
Para insan dan pecinta sepakbola di tanah air pasti sudah mengetahui atau bahkan muak dengan konflik yang ada di PSSI sekarang ini. Kedua pihak seakan ingin menang sendiri dan masing-masing meresa paling benar dan menyampingkan persatuan dalam sepakbola itu sendiri. Bisa dibilang sepakbola Indonesia sekarang ini sedang terpuruk, terpuruk bukan karena pemain kita payah dan kurang berbakat tetapi karena segelintir kelompok dan golongan yang masing-masing membela kepentinganya.


Munculnya dualisme Liga dan Timnas menambah terpuruknya dunia sepakbola kita. Dua kubu yang berseteru PSSI Djohar yang dikatakan banyak orang dikendalikan oleh seorang pengusaha bernama Arifin Panigoro dan KPSI La Nyala yang dikatakan banyak orang sebagai orang dekat keluarga Bakrie terus membuat kusut sepakbola kita. Yang benar diantara keduanya? tidak ada yang benar, karena jika ada yang benar pasti ada satu pihak yang mengalah dan merelakan ego demi kepentingan dan kemajuan sepakbola kita.
Awal mula terjadinya benang kusut ini adalah ketika rezim Nurdin memimpin di kala itu masyarakat sepakbola di tanah air mayoritasnya menginginlan Nurdin halid mundur dari jabatan ketua PSSI, karena dinilai sudah tidak layak lagi karena sudah menjadi narapidana kasus korupsi. Hingga pada tahun 2010 ketika timnas berlaga di AFF Suzuki Cup bangkitlah rasa nasionalisme masyarakat untuk timnas, hal ini diawali dengan ‘pembantaian’ yang dilakukan timnas Indonesia terhadap timnas Malaysia 5-1 pada pertandingan pertama Indonesia di AFF Suzuki Cup 2010 di Gelora Bung Karno. Setelah pertandingan itu rasa nasionalisme dan dukungan rakyat Indonesia terhadap Indonesia memuncak dan menyebar dari sabang sampai merauke. Rasa optimis akan menjuarai turnamen tersebut pun kuat ditanamkan di dada. Timnas melangkah mulus sampai ke final. Hingga Akhirnya dilibas oleh Malaysia di Bukit Jalil 3-0 di final leg pertama. di leg kedua sebagaimana kita ketahui timnas menang 2-1 tetapi itu tak cukup untuk mengejar agregat. Indonesia harus puas sebagai runner up untuk yang keempat kalinya. Dengan campur tangan FIFA dan AFC dibuatlah Komite Normalisasi untuk memilih ketua baru. Nampaknya dari sini masalah belum selesai pemegang suara mayoritas yang menamakan diri kelompok 78 ingin mengusung Arifin Panigoro dan George Toisuta sebagai calon ketua umum dan wakil ketua umum yang tidak direstui oleh FIFA karena tidak sesuai dengan statuta. Pada saat hari kongres pemilihan dilakukan keributan terjadi karena kelompok 78 bersikukuh ingin mencalonkan kedua nama itu. Namun sudah jelas aturan tak bisa ditabrak dan mereka tidak bisa mendaftarkan kedua nama itu (Arifin Panigoro dan George Toisuta). Kongres diskors. FIFA memberikan kesempatan terakhir hingga akhir Juni 2011 untuk memilih ketua umum baru. Pada Kongres luar biasa akhir Juni itu terpilihlah Djohar Arifin Husin sebagai ketua umum dan Farid Rahman sebagai wakilnya. Pada kongres itu pemilihan berjalan lancar dan tidak ada ribut-ribut seperti kongres sebelumnya.

Terpilihnya ketua umum baru tak membuat masalah ini selesai. beberapa hari setelah Djohar resmi menjadi ketua Pelatih timnas Indonesia Alfred Riedl secara mengejutkan dipecat oleh PSSI dan digantikan oleh Wim Risjbergen dari belanda untuk mengarungi kualifikasi Piala Dunia 2014. Timnas babak belur pada kualifikasi itu dan tak pernah menang sekalipun. walaupun pada babak awal mengalahkan Turkmenistan 4-3. Kompetisi yang sudah ada yaitu ISL diubah oleh Djohar menjadi Indonesia Premier League (IPL) dengan menambah jumlah peserta yang semula 18 menjadi 24 klub dengan memberikan tiket gratis kepada sejumlah klub untuk langsung promosi ke divisi tertinggi termasuk Persebaya Surabaya. Mereka bisa langsung berlaga di liga teratas Indonesia tanpa harus kerja keras dari bawah. Hal inilah yang membuat salah satu anggota Exco PSSI, La Nyalla geram dan membuat perlawanan namun IPL tetap 24 klub.  Hingga akhirnya sejumlah anggota PSSI yang dulunya mendukung Djohar menjadi balik menentang keputusannya. Mereka manarik diri dari IPL dan membentuk kembali ISL. terciptalah dualisme kompetisi yang dihias dengan dualisme klub. La Nyala cs kemudian membentuk Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia yang anggotanya diisi oleh mayoritas anggota PSSI. Terjadilah dualisme Organisasi. Pada saat AFF CUP 2012 sudah didepan mata terjadilah dualisme Timnas. Bukannya bersatu mereka malah tambah ribut dan terus adu mulut seoalah merasa paling benar.

Dibentuknya komite gabungan oleh AFC dan membuahkan beberapa keputusan    tak membuat dualisme ini selesai.
Sepertinya mereka sudah lupa bahwa sepakbola adalah milik bersama bukan milik Partai Politik seperti yang mereka lakukan. Mereka (yang sedang berkonflik) seakan menjadikan sepakbola untuk alat politik. Semoga mereka sadar dan mau bersatu.

http://toglu.wordpress.com/2012/11/09/pssivskpsi/#more-1567

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar